Trilogi Ki Hajar Dewantara

Konsep Trilogi Ki Hajar Dewantara

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), trilogi berarti tiga hal yang saling bertaut atau bergantung. Konsep trilogi Ki Hajar Dewantara yang digunakan sebagai pijakan slot gacor maxwin Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Berbagai visi pendidikan Ki Hajar Dewantara dapat kamu temukan pada buku Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara karya Bartolomeus Sambo dibawah ini.

1. Ing Ngarsa Sung Tuladha

Ing Ngarsa Sung Tuladha berarti bahwa pendidik yang berada di depan hendaknya menjadi contoh. Sung dalam bahasa Jawa berarti memberi, berasal dari kata asung. Sedangkan sung berarti menjadi, karena antara memberi dan menjadi memiliki makna yang berbeda.

Ajaran Ki Hajar Dewantara yang pertama ini menggambarkan situasi di mana seorang pendidik bukan hanya sebagai orang yang berjalan di depan tetapi juga harus menjadi teladan bagi semua orang yang mengikutinya. Selain mendidik dan transfer ilmu, pendidik juga harus memberikan contoh kepada peserta didik setidaknya mengenai hal yang diajarkannya.

Kata Ing Ngarsa tidak dapat berdiri sendiri jika tidak mendapatkan kalimat penjelas di belakangnya. Artinya seorang yang berada di depan jika belum menjadi teladan maka belum pantas menyandang gelar pendidik.

Ing Ngarsa Sung Tuladha menekankan pada ranah afektif yang berkaitan dengan sikap, perilaku, emosi, dan nilai. Ranah ini mengenai perilaku-perilaku pendidik yang akan menjadi teladan bagi peserta didik karena sejatinya setiap apapun yang dilakukan pendidik akan menarik perhatian dan contoh bagi peserta didik. Pendidik tidak bisa memerintahkan peserta didik untuk melakukan hal-hal yang pendidik sendiri belum memberikan contoh kepada peserta didik.

Di dalam Undang-undang disebutkan bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, salah satu di antaranya adalah kompetensi kepribadian. Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal guru yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, arif, dewasa, berwibawa, dan menjadi teladan bagi peserta didiknya.

2. Ing Madya Mangun Karsa

Ing Madya artinya di tengah-tengah. Mangun memiliki arti membangkitkan atau menggugah dan Karsa artinya bentuk kemauan atau niat. Makna dari Ing Madya Mangun Karsa ialah seseorang di tengah harus juga mampu melibatkan diri membangkitkan atau menggugah semangat.

Ing Madya Mangun Karsa berarti seorang pendidik jika berada di tengah-tengah peserta didiknya harus mampu terlibat dalam setiap pembelajaran yang dilakukan siswa agar semua bisa mempersatukan semua gerak dan perilaku secara serentak untuk mencapai tujuan bersama.

Ajaran Ing Madya Mangun Karsa ini erat kaitannya dengan kebersamaan, kekompakan, dan kerjasama. Seorang pendidik tidak hanya melihat kepada orang yang didiknya, tetapi juga harus berada di tengah-tengah orang yang dididiknya.

Pendidik harus memberi wawasan pengetahuan kepada peserta didik. Sebisa mungkin pendidik menanamkan pendidikan kepribadian kepada siswa meskipun tidak secara langsung. Pendidik yang dapat bekerjasama dengan peserta didiknya yang berada di tengah-tengah kelompoknya dan secara kooperatif berusaha Bersama sambal membantu peserta didik.

Di dalam Undang-undang (UU) No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen disebutkan bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru di antaranya kompetensi pedagogic artinya bahwa seorang guru harus mampu mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya. Seorang guru harus memfasilitasi siswanya untuk membentuk kepribadian baik secara akademik maupun non akademik.

3. Tut Wuri Handayani

Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berarti memberikan dorongan moral atau dorongan semangat sehingga memiliki arti seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Pendidik harus mampu memberi kemerdekaan kepada peserta didik dengan perhatian sepenuhnya untuk memberikan petunjuk dan pengarahan.

Kemerdekaan pendidikan diberikan pendidik melalui tanggung jawab kepada peserta didik untuk memperlihatkan kemampuannya dan sebagai pendidik ia berdiri di belakang tentang bagaimana para pendidik bisa menumbuhkan dan merangsang serta mengarahkan setiap potensi yang dimiliki peserta didik, merupakan hal yang harus dipikirkan.

Dalam UU No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru di antaranya kompetensi sosial, artinya seorang guru harus mampu berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik maupun siswa.

Tidak membedakan agama, jenis kelamin, suku, latar belakang keluarga, serta status sosial keluarga dalam memberi perlakuan. Pendidik dapat pula berkomunikasi dengan lisan maupun tulisan dalam berperilaku sosial, sebab guru perlu cakap dalam bersosialisasi untuk dapat lebih dekat dengan siswanya.

Ki Hajar Dewantara juga menyebutkan tujuan trilogi tersebut adalah sebagai berikut:

  1.     Mencapai tujuan tertib dan damai.
  2.     Membentuk manusia yang merdeka.

Tertib tidak akan tercapai jika tidak ada damai antar manusia. Manusia yang merdeka lahir dan batin adalah individu yang merdeka perasaaannya dan merdeka perbuatannya. masyarakat tertib dan damai hanya terwujud dalam satu kehidupan bersama berdasarkan cinta dan kasih sayang antar sesama, domino dalam hak dan kewajiban, sama derajat dan martabatnya. Baca secara lengkap pada buku PENDIDIKAN karakter Ki Hadjar Dewantara.

Sistem yang diterapkan para kolonial Belanda yaitu anak dijadikan budak yang bisa mereka atur sekehendak mereka. Didikan ini merupakan perkosaan atas kehidupan batin anak sehingga budi pekertinya rusak disebabkan selalu hidup di bawah paksaan dan hukuman yang biasanya tidak setimpal dengan kesalahannya.

Ki Hajar Dewantara menawarkan konsep trilogi pendidikan yang bersifat memanusiakan manusia dengan cara membentuk pribadi yang berakhlak mulia untuk dapat memberi teladan.

Pandangan Ki Hajar Dewantara mengimplisitkan landasan tugas pendidik adalah mengacu kepada pemulihan harkat dan martabat manusia dan diarahkan kepada bakat serta kodratnya.

Hal ini berarti pendidik harus bersikap menuntun dan memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan kretifitas yang memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak.

Karya-karya Ki Hajar Dewantara

Sebagai seorang pendidik, budayawan serta jurnalis, Ki Hajar Dewantara memiliki beberapa karya di masa hidupnya. Karya-karya tersebut telah banyak dipublikasikan dan telah memberikan sumbangsih terhadap perkembangan Pendidikan di Indonesia, karya-karya tersebut antara lain:

1. Ki Hajar Dewantara, Buku Bagian Pertama: Tentang Pendidikan

Buku ini membahas gagasan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam bidang Pendidikan di antaranya mengenai Pendidikan nasional. Pendidikan kanak-kanak, Pendidikan Sistem Pondok, Adab dan etuka keteladanan, Pendidikan dan kesusilaan. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa kemerdekaan bangsa untuk mendapat kesejahteraan tidak hanya dicapai melalui jalan politik, tetapi juga melalui pendidikan.

2. Ki Hajar Dewantara, Buku Bagian Kedua: tentang Kebudayaan

Dalam buku ini, Ki Hajar Dewantara menulis tentang kebudayaan dan kesenian antara lain: Pembangunan Kebudayaan Nasional, Kebudayaan SIfat Pribadi Bangsa, Asosiasi antara Barat dan Timur.

3. Ki Hajar Dewantara, Buku Bagian Ketiga: tentang Politik dan Kemasyarakatan

Buku ini berisi tulisan-tulisan mengenai politik antara domino 1913-1922 yang membuat ramai dunia imperialis Belanda dan tulisan-tulisan mengenai wanita dan perjuangannya.

4. Ki Hajar Dewantara, Buku Bagian Keempat: tentang Riwayat dan Perjuangan Hidup Penulis

Pada buku bagian keempat ini, Ki Hajar Dewantara banyak melukiskan kisah kehidupan dan perjuangan hidup perintis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shibuya, Shinjuku, Asakusa

Langkah memperbaiki data paspor jika salah saat registrasi JAVES

Perbandingan biaya perjalanan musim semi vs musim gugur di Jepang