Pemikiran Dewi Sartika Mengenai Perempuan

Pemikiran Dewi Sartika Mengenai Perempuan

Pada awal abad ke-20, gerakan feminis muncul di Hindia Belanda. Dewi Sartika dan Kartini, dua tokoh perempuan pribumi yang mendapatkan pendidikan Barat berkat status mereka sebagai anak bangsawan, memulai pendirian sekolah khusus untuk putri pada tahun 1904.

Empat tahun kemudian, para perempuan Belanda mendirikan cabang dari Asosiasi Hak Pilih Perempuan Belanda di Nusantara. Pemikiran proto-feminis dan feminis pertama kali menyebar di Hindia Belanda, sehingga pada tahun 1928 diadakan Kongres Perempuan pertama tangan judi rtp.

Ide-idenya tentang apa yang harus dimiliki oleh seorang wanita tercermin dalam tagline-nya, yang berbunyi, “Ari, untuk menjadi cantik, Anda harus mencapai semua yang Anda bisa, Anda bisa bernapas!” tagline ini sesuai dengan apa yang dialami oleh ibu Dewi Sartika. Para perempuan pada masa itu hidup dalam lingkungan yang terkekang dan terasing, sehingga aktivitas mereka yang memakan waktu banyak tidak memberikan kontribusi pada pemahaman mereka.

Semua impian dan minat para gadis hanya berpusat pada pernikahan karena mereka hidup dalam masyarakat feodal. Lalu pada tahun 1902 Dewi Sartika pulang ke Bandung  setelah tinggal di Cicalengka. Alasan kepulangannya adalah karena ibunya kembali setelah ayahnya meninggal. Pada tanggal 16 Januari 1904, ia mendirikan sekolah khusus perempuan di balai kabupaten Bandung.

Dalam bukunya, Dewi Sartika mengatakan bahwa perempuan tidak akan jauh berbeda dari laki-laki dan harus diberi pendidikan yang bagus serta ajaran yang kuat. Dia percaya bahwa perkembangan informasi akan mempengaruhi nilai-nilai perempuan adat, yang hanya bisa dipelajari melalui pendidikan di sekolah.

Dewi Sartika sangat serius dalam membangun sekolah untuk anak perempuan agar mereka dapat belajar membaca dan menulis, serta tidak terbatas oleh norma-norma lama yang menghalangi perempuan untuk mandiri.

Meskipun mengalami keretakan dalam keluarganya dan harus mengandalkan bantuan dari kerabat serta kehilangan kekayaannya, serta ibunya yang tidak mendukung rencananya saat kembali ke Bandung dari Ternate, Dewi Sartika tetap berusaha mewujudkan mimpinya dengan menghadap Bupati Bandung pada saat itu, R.A.A. Martanegara (1893-1918), yang dikenal sebagai bupati yang progresif.

Pada mulanya, Bupati Martanegara menantang rencana Dewi Sartika yang ingin membangun sekolah untuk perempuan. Sebab menurut Martanegara, mimpi Dewi Sartika akan mendapatkan tentangan dari masyarakat. Selain itu, Martanegara juga beranggapan bahwa sekolah putri priyayi bertentang dengan konvensi maupun aturan para bangsawan pada saat itu. Sementara itu, di sisi lain Dewi Sartika tetap tidak terpengaruh oleh penolakan dari bupati.

Namun pada akhirnya, bupati Martanegara domino usulan dari Dewi Sartika dan Sekolah Isteri pun didirikan pada 16 Januari tahun 1904. Dalam konsepnya, Sekolah Dewi Sartika akan menjadi tempat belajar yang terbuka untuk semua orang yang membutuhkan. Kehadiran sekolah ini mencerminkan pola pikir kewarganegaraan Dewi Sartika yang konsisten sepanjang hidupnya.

Bahkan, sejak kecil, ia sudah terlihat bermain di pelataran Kepatihan Bandung dan di Cicalengka di mana ia bersama Patih Aria, yang masih mempertahankan perbedaan sosial antara menak dan somah, Dewi Sartika tetap memperlakukan orang dengan cara yang sama.

Dewi Sartika, sebagai pelopor pendidikan perempuan, memiliki pandangan jauh ke depan bahwa perempuan harus memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam persiapan menjadi calon ibu rumah tangga, seperti keterampilan menjahit, memasak, merajut, dan keterampilan lain yang berkaitan langsung dengan pekerjaan perempuan.

Selain itu, perempuan juga harus memiliki kemampuan membaca, menulis, matematika, kesehatan, dan bahasa Belanda sebagai tambahan. Dewi Sartika menawarkan ilmu tersebut, baik bakat maupun ilmu akademik. Dewi Sartika memimpin sebuah sekolah putri di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1904 yang dikelola oleh seorang penyelenggara bernama “Veregining Kaoetamaan Istri” dan ide sekolah ini ditiru oleh alumninya yang membuka domino di Padang Panjang dengan nama “Kautamaan Istri Minangkabau”.

Seperti halnya Kartini, Dewi Sartika terus berjuang demi pendidikan perempuan Indonesia hingga akhir hayatnya. Pahlawan nasional seperti Dewi Sartika dan Kartini merupakan teladan bagi masyarakat Indonesia untuk terus berjuang dan gigih.

Buku “Raden Ajeng Kartini” menjelaskan perjalanan panjang yang ditempuh oleh Kartini agar perempuan Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak. Sama halnya dengan perjuangan yang dilakukan oleh Dewi Sartika. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shibuya, Shinjuku, Asakusa

Langkah memperbaiki data paspor jika salah saat registrasi JAVES

Perbandingan biaya perjalanan musim semi vs musim gugur di Jepang