Perjuangan Kapitan Pattimura
Perjuangan Kapitan Pattimura
Kapitan Pattimura adalah seorang pahlawan Indonesia yang berasal dari Maluku. Perjuangan yang dilakukan Kapitan Pattimura dalam melawan penjajahan Belanda yang masuk ke tanah Maluku untuk menguasai perdagangan rempah-rempah. Pada tanggal 13 Agustus 1814, setelah adanya penandatanganan Perjanjian Inggris-Belanda, Kepulauan Maluku kembali di domino88 kekuasaan Belanda. Pada tanggal 14 Mei 1817, untuk tetap mempertahankan daerahnya seluruh rakyat Saparua turut melakukan perlawanan kepada Belanda.
Sebagian besar masyarakat Maluku turut memilih Kapitan Pattimura untuk memimpin pemberontakan. Benteng Duurstede yang berhasil direbut dari tangan Belanda dan membuat semua tentaranya tewas, termasuk Residen Van den Berg. Akan tetapi pada tanggal 11 November, Kapitan Pattimura ditangkap oleh pihak Belanda dan Benteng Duurstede kembali berada di tangan Belanda.
Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda. Belanda menetapkan berupa kebijakan monopoli, pajak atas tanah atau landrente, pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi atau Hongi Tochten, serta mengabaikan Traktat London I yang tertuang dalam Pasal 11 yang memuat tentang ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan korps Ambon dengan Gubernur.
Dan isi dalam perjanjian tersebut merupakan dicantumkannya dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku, para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan. Maksudnya dalam artian ini berhak untuk memilih untuk masuk dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam prakteknya pemindahan dinas militer ini dipaksakan.
Pada tahun 1817, kolonial Belanda kembali datang domino88 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi dan hubungan kemasyarakatan yang terjadi buruk selama dua abad lamanya. Rakyat Maluku akhirnya bangkit dan mengangkat senjata yang berada di bawah pimpinan Kapitan Pattimura.
Saat terjadinya waktu pecah perang melawan penjajah Belanda pada tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, tua-tua adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sifat kesatria atau kabaresi.
Jabatan sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura memulai untuk mengatur strategi perang yang akan dilakukannya bersama pembantunya. Sebagai pemimpin, Kapitan Pattimura berhasil mengkoordinir raja-raja patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan.
Jiwa kewibawaan dan penuh kharisma yang ada pada diri Kapitan Pattimura dalam kepemimpinan diakui luas oleh para raja patih maupun rakyat biasa. Kapitan Pattimura juga dikenal cerdik dan mampu menghimpun kekuatan besar rakyat Maluku sehingga mempersulit pergerakan Belanda di Maluku.
Nama Kapitan Pattimura juga sangat disegani oleh para pemimpin VOC kala itu yang harus memutar otak untuk menghadapi perlawanan rakyat Maluku. Tidak heran jika Pattimura sangat piawai dalam pertempuran dan mengawal pasukan.
Dalam perjuangan menentang Belanda, Kapitan Pattimura juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, para raja Bali, raja Sulawesi dan raja Jawa. Perang yang dilakukan Kapitan Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.
Pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinasi oleh Kapitan Pattimura yang juga dibantu oleh para panglima, seperti Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang terjadi menghancurkan pasukan Belanda dan tercatat, seperti perebutan benteng Belanda Duurstede di Saparua, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jazirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan.
Strategi devide et impera alias politik pecah belah ala Kolonial Belanda pada akhirnya berhasil menumbangkan Kapitan Pattimura beserta pengikut dan pasukannya. Akibat pengkhianatan dan informasi dari mereka, strategi Pattimura diketahui oleh Belanda dan dapat dipatahkan. Kapitan Pattimura ditangkap pada tanggal 11 November 1817 saat berada di Siri Sori. Belanda menawarkan kerjasama kepada Kapitan Pattimura tetapi selalu ditolak.
Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Di kota Ambon, pada tanggal 16 Desember 1817 para tokoh pejuang Kapitan Pattimura, Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Said Parintah akhirnya ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan di depan Benteng Nieuw Victoria, Kota Ambon. Untuk jadwal sepak bola indonesia jasa serta pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Komentar
Posting Komentar